:: dengan memahami sejarah kita dapat bertindak lebih bijak :: :: AJINING DIRI ANA ING KEDALING LATHI, AJINING RAGA ANA ING TATA BUSANA ::

Kamis, 10 November 2011

Meningkatkan Minat dan Motivasi Belajar Siswa

Meningkatkan Minat dan Motivasi Belajar Siswa pada Pembelajaran Matematika melalui Penanaman Konsep dan Frekwensi Latihan

Minat adalah perasaan tertarik dan keterkaitan pada sesuatu hal atau aktifitas tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasrnya adalah penerimaan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Makin kuat atau dekat hubungan tersebut makin kuat dan makin besar minatnya (Tim Pengembang MKDK Semarang, 1989 : 156)
Antara minat dan perhatian terdapat perbedaan mendasar, namun saling melengkapi. Minat lebih bersifat tetap, sedangkan perhatian bersifat temporer (sementara). Antara minat perhatian terdapat hubungan saling mempengaruhi secara timbale balik. Artinya perhatian yang diperkuat secara terus menerus dapat menjadi minat. Hal yang diminati seseorang pasti menarik perhatiannya (Depdikbud, 1994 : 2).
Motivasi berasal dari kata motiv yaitu segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu (Ngalim Purwanto, 1997 : 60). Motiv merupakan suatu pernyataan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku atau perbuatan ke suatu tujuan atau perangsang.
Pengertian motiv dan motivasi sukar dibedakan secarategas, sehingga orang sering menggunakannya secara bergantian. Motiv lebih menunjuk padapada suatu dorongan yang timbul dalam diri seseorang yang menyebabkan orang tersebut mau bertindak melakukan sesuatu. Sedangkan motivasi adalah suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar ia tergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu.
Antara minat dan motivasi terdapat hubungan yang erat. Jika seseorang memiliki motivasi terhadap sesuatu maka akan timbul minatnya terhadap sesuatu tersebut. Maka selanjutnya peneliti menggunakan (memakai) minat dan motivasi secara bersamaan.
Minat dan motivasi belajar siswa dapat ditingkatkan melalui kegiatan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Diantaranya melalui penanaman konsep materi pembelajaran yang tepat, memberi peluang/kesempatan siswa terlibat secara aktif dan kretif dalam kegiatan pembelajaran, dan latihan yang dilakukan secara berulang-ulang.
Prestasi adalah hasil (kemampuan) yang diperoleh seseorang atas sesuatu. Ruang lingkup prestasi meliputi aspek pengetahuan, sikap, dan psikomotor. Prestasi tersebut dapat dilihat setelah dilakukan pengujian (penilaian) terhadap suatu kemampuan.
Belajar adalah sustu bentuk perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan. Tingkah laku yang baru itu misalnya tingkah laku yang tidak tahu menjadi tahu, timbulnya pengertian baru, perubahan dalam sikap, kebiasaan-kebiasaan, keterampilan, kesanggupan menghargai, serta pertumbuhan jasmani (Ngalim Purwanto, 1997 : 85)
Prestasi belajar merupakan hasil (kemampuan) seseorang (yang diperoleh) sebagai hasil dari belajar yang dipengaruhi oleh berbagai factor. Faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar dapat digambarkan dengan skema berikut ini :


Prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor dari luar dan dari dalam diri siswa. Faktor dari dalam diri siswa diantaranya adalah faktor psikologis. Ketika siswa memiliki minat dan motivasi yang cukup tinggi akan mempengaruhi proses pengajaran dan pembelajaran. Pengaruh itu menyebabkan prestasi belajar yang diraih siswa akan memuaskan.
Dalam pembelajaran matematika perlu diterapkan konsep-konsep yang tepat untuk memberikan respon positif terhadap materi. Menurut Dahar (Hera Lestari Mikarsa, 2007 : 6.11) konsep-konsep itu menyediakan skema-skema terorganisir untuk mengasimilasikan stimulus-stimulus baru, dan untuk menentukan hubungan didalam dan antara kategori-kategori.
Jika dipahami secara mendalam konsep-konsep yang ada didalam struktur kognitif, individu merupakan hasil yang diperoleh, dan dijadikan dasar oleh seseorang dalam memecahkan masalah. Dalam hal ini bagaimana siswa menafsirkan atau menerjemahkan soal menggunakan faktorisasi prima untuk menentukan FPB dan KPK sampai 3 bilangan. Flavell (Hera Lestari Mikarsa, 2007 : 6.11) mengemukakan tujuh dimensi konsep yaitu : (1) atribut, (2) struktur, (3) keabstrakan, (4) keinklusifan, (5) generalisasi, (6) ketetapan, (7) kekuatan atau power.
Menurut pendapat Ausabel (Hera Lestari Mikarsa, 2007 : 6.12) individu memperoleh konsep-konsep melalui dua cara yaitu melalui formasi konsep dan asimilasi konsep. Formasi konsep diperoleh individu sebelum ia masuk sekolah. Karena proses perkembangan konsep-konsep semasa kecil termodifikasi oleh pengalaman-pengalaman sepanjang perkembangan individu. Sedangkan asimilasi konsep terjadi setelah anak bersekolah. Asimilasi konsep secara deduktif, anak biasanya diberi atribut sehingga mereka belajar konseptual misalnya kumpulan binatang berkaki dua, anak akan berpikir ayam, bebek, burung dan lain-lainnya.
Klausmeier (Hera Lestari Mikarsa, 2007 : 6.12), mengemukakan empat tngkatan pencapaian konsep yaitu :
a.       Tingkat Kongkrit
Ditandai adanya pengenalan anak terhadap suatu benda yang pernah ia kenal.
b.       Tingkat Identitas
Seseorang telah mencapai tingkat ini yaitu jika ia mengenal sesuatu obyek setelah selang waktu tertentu.
c.    Tingkat Klasifikatori
Pada tingkatan ini anak sudah mampu mengenal persamaan dari suatu contoh yang berbeda dari kelas yang sama.
d.       Tingkat Formal
Anak sudah mampu membatasi suatu konsep dengan konsep yang lain.
Pembelajaran matematika memerlukan daya nalar yang baik untuk memahami suatu konsep yang diajarkan guru, namun anak memiliki keterbatasan. Seperti apa yang dikatakan Gibson dan Miteher (Hera Lestari Mikarsa, 2007 : 12.21) bahwa anak memiliki daya nalar yang belum sepenuhnya berkembang, memiliki daya konsentrasi yang masih terbatas pada jangka pendek, mudah memiliki sikap dan minat terhadap sesuatu.
Daya nalar yang baik berimplikasi pada daya serap memahami konsep dan pengajaran yang menekankan keterampilan menyelesaikan soal dan memecahkan masalah yang memerlukan kecerdasan . Hal ini diperkuat oleh pendapat Gatner (Hera Lestari Mikarsa, 2007 : 7.26) bahwa kecerdasan matematika logika adalah kapasitas menggunakan angka secara efektif.
Pengajaran hendaknya memberi kesempatan kepada anak untuk melakukan aktivitas dan bekerja sendiri. Asas bekerja sendiri ditujukan untuk membimbing anak ke arah berdiri sendiri atas tanggung jawab sendiri (Depdikbud, 1993 : 8) Ini berarti, anak dibina untuk percaya kepada diri sendiri, mampu mengatasi kesulitan-kesulitan dengan kemampuan sendiri, penuh inisiatif, kreatif dan berpikir kritis serta tanggung jawab.
Keaktifan dibagi atas rohani dan jasmani. Keaktifan rohani anak dapat dimunculkan dengan cara anak dibiasakan mencari, mencoba dan mendapatkan sendiri. Pancaindra, ingatan, fantasi, kecerdasan, perasaan, kemauan, harus selalu dilatihkan. Sedangkan keaktifan jasmani dapat dilatih dengan membiasakan anak mengukur sendiri, menggambar, memahat, memelihara sendiri, dan bergerak sesuai pendidikan jasmani.
Tugas yang diberikan sedikit menantang berdampak memacu respon yang berkualitas tinggi. Guthrie (Ngalim Purwanto, 1997 : 92) mengemukakan bahwa tingkah laku manusia itu secara keseluruhan dapat dipandang sebagai deretan-deretan tingkah laku yang terdiri dari unit-unit. Unit-unit tingkah laku ini merupakan reaksi atau respon sebelumnya, dan kemudian menimbulkan respon bagi unit tingkah laku yang berikutnya. Ulangan atau latihan  yang berkali-kali memperkuat asosiasi yang terdapat antara unit tingkah laku yang satu dengan tingkah laku yang berikutnya. Peningkatan frekwensi latihan dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan seseorang terhadap bidang latihan.
Menurut Kolb.1984 (Suciati, dkk, 2007 : 4.4) mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh secara terus menerus dan diuji melalui pengalaman peserta didik. Dengan kata lain, belajar merupakan suatu proses yang berkesinambungan dan membawa implikasi yang berkesinambungan pula. Secara sederhana dapat dikemukakan bahwa semua proses belajar adalah belajar kembali.
Dengan mempertimbangkan dan merujuk pada beberapa pendapat di atas, disusunlah hipotesis tindakan sebagai berikut :
1)     Penanaman konsep yang tepat sesuai dengan karkteristik dan perkembangan kognitif siswa SD akan dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa.
2)   Pemberian kesempatan kepada siswa untuk bersama menyusun soal latihan akan mendorong rasa ingin tahu siswa dan dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa untuk memahami materi pembelajaran.
3)  Pemberian soal latihan secara berulang-ulang dapat meningkatkan ketrampilan siswa dalam mengerjakan soal.
4)    Peningkatan minat dan motivasi belajar siswa dapat dilihat dari peningkatan hasil belajar siswa.

Artikel yang kemungkinan terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar